Dikira Gila, Pria Itu Ternyata Bukan Orang Sembarangan! Sangat Dihormati -->
HEALTH MAGAZINES INFORMATION https://www.magazineshealth.net/2021/01/dikira-gila-pria-itu-ternyata-bukan.html

Dikira Gila, Pria Itu Ternyata Bukan Orang Sembarangan! Sangat Dihormati

PLEASE WA1T!

 Seorang pria tengah viral di media sosial lantaran berpenampilan lusuh dan kumal. Sosoknya ternyata bukan orang sembarangan.

Warganet mendadak dibuat takjub dengan viralnya sosok pria berpenampilan kumal dan lusuh.

Pria tersebut nyaris selalu dikira orang gila oleh mereka yang pertama kali melihatnya.

Rambutnya yang berantakan dan bertelanjang dada membuat penampilan pria tersebut seperti tak terurus.

Tak hanya itu, dalam kesehariannya, pria tersebut hanya mengenakan sarung yang nampaknya juga sudah lusuh.

Namun siapa sangka, sosok pria yang kerap dikira orang gila ini ternyata bukan orang sembarangan.
 


Viral pria berpenampilan lusuh
 



Bahkan beberapa orang yang lewat di depannya akan selalu menyalimi dan mencium tangannya.

Pria berpenampilan lusuh tersebut ternyata sangat dihormati oleh orang sekitar.

Melansir dari akun Instagram @ndorobeii fakta sebenarnya dari sosok pria tersebut akhirnya terungkap.

Bukan sembarang orang, pria tersebut ternyata adalah seorang kiai.

Ya, dia adalah Kiai Haji Mustofa.

Di desa Buker, Jrengik, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, nama Kiai Mustofa sangat dihormati.


"Mungkin ada yang sudah ketemu beliau.

Sesuatu yang tak bisa diterima akal orang biasa, sepintas beliau dianggap itu orang gila oleh kebanyakan orang (nalar tak sampai).

Beliau adalah Kiai Haji Mustofa Desa Buker, Kec, Jrengik, Kab. Sampang.

Lagi rame dibicarakan," tulisnya ndorobeii.

Para santri yang melintas dan melihat Kiai Mustofa akan langsung bersalaman dan mencium tangan pria berambut gondrong itu.
 

KIAI HAJI MUSTOFA


Sama halnya dengan kebanyakan kiai di Jawa Timur, Kiai Mustafa juga gemar bersarung.

Bedanya Kiai Mustofa tak segan bertelanjang dada.

"Di Pasuruan Jatim juga ada.

Namanya Gus Ja'far, beliau dihormati oleh banyak orang meskipun penampilannya kayak orang gila," tulis salah satu warganet.

Profil KH Maimoen Zubair Disegani Jokowi dan Prabowo Meninggal Dunia di Mekah

Ulama kharismatik KH Maemoen Zubair meninggal dunia di Mekkah Arab Saudi, saat menjalankan ibadah haji Selasa (6/8/2019).

KH Maimeon Zubair atau Mbah Moen wafat di usia 90 tahun. Mbah Moen merupakan kiai kelahiran 28 Oktober 1928.

KH Maimeon Zubair atau Mbah Moen dikenal sebagai sosok ulama kharismatik dan banyak dihormati banyak kalangan termasuk Jokowi dan prabowo.

Berikut profil singkat seputar sosok Mbah Moen..

Biodata

Lahir: 28 Oktober 1928, Rembang

Tempat tinggal: Pondok Pesantren Al-Anwar

Kebangsaan: Indonesia

Nama lain: Mbah Moen, Maimoen

Suku: Jawa

Pendidikan: Lirboyo

Pekerjaan: Pimpinan Pondok Pesantren

Organisasi: Nahdlatul Ulama

Partai politik: Partai Persatuan Pembangunan.

Agama: Islam.

Anak: KH Abdullah Ubab, KH Gus Najih, KH Majid Kamil, Gus Abdul Ghofur, Gus Abdur Rouf, Gus Muhammad Wafi, Gus Yasin, Gus Idror, Sobihah, Rodhiyah

Orang tua: Kyai Zubair

KH. Maimun Zubair adalah seorang ulama yang dilahirkan di daerah Sarang, Rembang Jawa Tengah.

KH Maimun Zubair mengasuh di Pondok Pesantren Al Anwar yang juga lokasinya berada di Sarang, Rembang Jawa Tengah.

Kealiman dan perhatian beliau terhadap berbagai ilmu Islam memang diturunkan dari Ayah beliau yang juga merupakan seorang Ulama.

Ayah KH. Maimun Zubair adalah Kiai Zubair.

Kyai Zubair atau ayahanda KH. Maimun Zubair ini adalah seorang alim ulama yang merupakan murid dari Ulama besar Syaikh Saíd al-Yamani serta Syaikh Hasan al-Yamani al-Makky.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar.

Mbah Moen adalah ulama yang sangat dihormati, dia merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Mbah Moen juga dikenal sebagai Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU).

Sejak kecil dikenal sebagai anak yang taat akan agama.

Pada tahun 1945 beliau bertolak ke Kota Kediri untuk mengasah ilmunya di Pondok Lirboyo, Jawa Timur yang pada saat itu di bawah pengasuhan KH Abdul Karim, KH Mahrus Ali dan KH Marzuki.

Selama lima tahun, beliau terus mengasah ilmu agama di Pondok Lirboyo.

Sampai akhirnya, Mbah Moen mendirikan Pondok Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar.

Kemudian sekitar tahun 2008, kembali mendirikan Pondok Pesantren Al-Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, yang kemudian oleh beliau dipasrahkan kepada putranya KH Ubab Maimun.

Pendidikan Mbah Moen

Kedalaman ilmu agama dari orangtua KH. Maimun Zubair itulah merupakan sebuah dasar pendidikan agama yang membentuk KH. Maimun Zubair seperti sekrang ini.

Setelah mengaji dan mendalami ilmu agama dari Ayahnya, kemudian KH. Maimun Zubair meneruskan mondoknya di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuki Dahlan.

Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Makkah Mukarromah pada usia 21 tahun. Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, KH. Maimun Zubair ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib.

Di Mekkah, KH. Maimun Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.

Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, KH. Maimun Zubair tetap menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.

Pernah menjadi anggota DPRD

Selain dikenal sebagai ulama, Mbah Moen juga dikenal sebagai politisi. Dalam dunia politik, Mbah Moen pernah menjadi anggota DPRD kabupaten Rembang, Jawa Tengah selama 7 tahun.

Selain itu Mbah Moen juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah selama tiga periode.

Ketua Majelis syariah PPP

Dalam politik, Mbah Moen memilih bergabung ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Di saat NU sedang ramai mendirikan PKB tahun 1998, Mbah Moen lebih memilih tetap di PPP, partai dengan gambar Ka'bah.

Di PPP Mbah Moen menduduki posisi sebagai Ketua Mejelis Syariah PPP. Mbah Moen pernah mengatakan PPP bukan hanya untuk agama Islam, tapi PPP hadir untuk Indonesia.

"Kehadiran PPP bukan hanya untuk agama (Islam), tapi untuk bangsa Indonesia," kata Ulama karismatik pengasuh Ponpes Al-Anwar ini, saat menghadiri Harlah PPP di Bantul, (16/1/2019).

 

Sumber :  style.tribunnews.com

WA1T!

Share this post:

0 Comments

Please read our Comment Policy before commenting. ??

Iklan Tengah Post


Video

Notification